Apakah Mahasiswa Menggunakan Kecerdasan Buatan dengan Integritas dan Tanggung Jawab?
Survei terbaru mengungkapkan bahwa mahasiswa mengadopsi pendekatan yang reflektif dan etis dalam penggunaan kecerdasan buatan dalam tugas-tugas akademik mereka. Berbeda dengan kekhawatiran yang diungkapkan oleh beberapa pengajar, hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa menolak penggunaan AI yang mengancam integritas akademik. Mereka lebih memilih menggunakan alat AI untuk tugas-tugas spesifik seperti bantuan penulisan, generasi ide, atau pemahaman materi kuliah. Hampir setengah dari mahasiswa yang disurvei menggunakan teknologi ini setidaknya sekali seminggu, namun selalu dengan hati-hati.
Pengalaman praktis dengan alat-alat ini lebih memengaruhi sikap mereka dibandingkan jenis kelamin atau bidang studi mereka. Mahasiswa yang secara teratur menggunakan AI mengungkapkan kebutuhan yang lebih besar akan pelatihan institusional. Mereka terutama ingin belajar untuk menyusun tugas mereka dengan lebih baik, menulis prompt yang efektif, atau memahami konsep-konsep yang kompleks. Namun, seperempat dari mereka tidak menginginkan pelatihan sama sekali, baik karena kurangnya pengetahuan maupun skeptisisme terhadap teknologi ini.
Mahasiswa menunjukkan kewaspadaan khusus terhadap risiko kecurangan. Sebuah eksperimen yang dilakukan selama studi menunjukkan bahwa mereka sangat tidak menyetujui penggunaan AI untuk menghasilkan jawaban secara otomatis, dan lebih memilih menggunakannya hanya untuk meningkatkan kejelasan atau organisasi karya mereka. Posisi ini mencerminkan keinginan untuk menjaga kejujuran intelektual, meskipun beberapa khawatir akan dituduh salah melakukan pelanggaran.
Universitas didorong untuk menanggapi permintaan ini dengan program pendidikan yang berbasis pada kepercayaan daripada pengawasan. Mahasiswa tidak mencari cara untuk menghindari aturan, tetapi ingin menguasai keterampilan yang menjadi penting bagi masa depan profesional mereka. Sikap bertanggung jawab mereka menyoroti pentingnya mengintegrasikan AI dalam kurikulum dengan cara yang terstruktur dan transparan, sambil menyesuaikan metode evaluasi untuk menghargai penalaran dan kreativitas.
Studi ini mempertanyakan anggapan umum tentang kecenderungan mahasiswa untuk mencontek. Sebaliknya, studi ini mengungkapkan generasi yang sadar akan isu-isu etika dan ingin didampingi untuk menggunakan alat-alat ini dengan cara yang relevan dan bertanggung jawab. Tantangan sebenarnya bagi institusi bukanlah mengawasi, tetapi mendidik dan mempersiapkan mahasiswa untuk dunia di mana AI memainkan peran yang semakin besar.
Sources et crédits
Étude source
DOI : https://doi.org/10.1007/s43681-026-01085-4
Titre : Do our students deserve better than distrust? How students show high integrity in their attitudes towards using AI
Revue : AI and Ethics
Éditeur : Springer Science and Business Media LLC
Auteurs : Gry Ane Vikanes Lavik; Ingunn Johanne Ness; Erik Knudsen; Stefan Sobolowski